Gempa Dahsyat Myanmar: Korban Tewas Capai 1.700, Tim Penyelamat Terus Berjuang
Myanmar, ZONAWARTA.COM – Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3), menyebabkan lebih dari 1.700 korban jiwa dan ratusan orang masih hilang. Tim penyelamat terus berupaya mengevakuasi korban dari reruntuhan, termasuk empat orang yang baru saja ditemukan selamat setelah hampir 60 jam terjebak di bawah puing-puing sekolah yang ambruk di wilayah Sagaing.
Selain itu, tim pemadam kebakaran Myanmar melaporkan satu jenazah ditemukan di lokasi yang sama. Sementara itu, di ibu kota Thailand, Bangkok, jumlah korban tewas akibat dampak gempa meningkat menjadi 18 orang setelah gedung bertingkat yang sedang dibangun roboh. Pihak berwenang Thailand menyatakan 76 pekerja masih hilang dan pencarian terus dilakukan.
Gempa terjadi di dekat Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar, dengan episentrum di sepanjang patahan Sagaing yang terkenal aktif. Guncangan ini terasa hingga negara-negara tetangga, termasuk Thailand dan China. Getaran susulan terus terjadi, termasuk gempa berkekuatan 5,1 magnitudo yang tercatat di barat laut Mandalay pada Minggu (30/3).
Meski upaya penyelamatan telah dilakukan sejak hari pertama, beberapa daerah terdampak parah masih sulit dijangkau. Keterbatasan alat berat memaksa warga setempat menggali reruntuhan dengan tangan kosong demi menyelamatkan korban yang masih hidup.
Pada Sabtu malam, seorang wanita lanjut usia berhasil diselamatkan di Nay Pyi Taw setelah terjebak selama 36 jam di bawah reruntuhan rumah sakit. Di Mandalay, sebanyak 29 orang ditemukan selamat dari apartemen yang runtuh.
Di Bangkok, tanah yang lembut memperparah dampak guncangan. Sebuah gedung bertingkat yang belum selesai dibangun runtuh, menimbun para pekerja konstruksi. Menteri Perindustrian Thailand, Akanat Promphan, mengatakan adanya dugaan “anomalitas” pada baja yang digunakan dalam konstruksi bangunan tersebut. Sampel material telah dikumpulkan untuk diteliti lebih lanjut.
Sementara itu, keluarga korban masih menunggu kabar dengan penuh harapan. Seorang perempuan yang suaminya bekerja di proyek tersebut mengatakan kepada media, “Saya akan menunggu selama apa pun yang diperlukan.”
Sejumlah negara telah mengirimkan bantuan ke Myanmar untuk membantu upaya penyelamatan dan pemulihan pascagempa. Bantuan tersebut meliputi:
China: Mengirim tim penyelamat beranggotakan 82 orang ke wilayah terdampak, serta tim tambahan ke Yangon.
Hong Kong: Mengirim 51 petugas penyelamat pada Minggu.
India: Mengirim tim penyelamat dan pasokan darurat dengan penerbangan khusus.
Malaysia: Mengirim tim bantuan bencana sebanyak 50 orang.
Negara Lain: Filipina, Vietnam, Indonesia, Irlandia, Korea Selatan, dan Selandia Baru juga mengirimkan tim penyelamat.
Inggris: Menyumbangkan dana sebesar £10 juta untuk bantuan kemanusiaan.
Namun, upaya bantuan ini masih terkendala oleh situasi politik di Myanmar yang diperparah dengan konflik bersenjata. PBB mengecam serangan udara yang dilakukan oleh junta militer Myanmar di wilayah Sagaing, yang masih terjadi meski negara itu tengah dilanda bencana besar.
Pemerintahan bayangan Myanmar, National Unity Government (NUG), menyatakan bahwa pasukan mereka akan menangguhkan serangan ofensif selama dua minggu untuk memfokuskan bantuan bagi korban gempa.
Para ahli memperingatkan bahwa Myanmar bisa menghadapi bencana yang lebih besar saat musim hujan tiba. Tahun lalu, banjir besar akibat hujan monsun merusak banyak rumah dan fasilitas sanitasi. “Hujan diperkirakan mulai turun pada April, dan musim monsun akan tiba pada Mei,” ujar Lauren Ellery dari International Rescue Committee.
Dengan kondisi yang semakin sulit, masyarakat Myanmar kini berjuang tidak hanya untuk bertahan hidup setelah gempa, tetapi juga menghadapi ketidakpastian di tengah krisis politik dan ancaman bencana alam yang berkelanjutan.
Sumber: BBC