Korea Selatan, ZONAWARTA.COM – Kebakaran hutan besar melanda wilayah tenggara Korea Selatan, menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai 19 lainnya. Menurut data terbaru dari Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan, bencana ini menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah negara tersebut.

Penjabat Presiden Korea Selatan, Han Duck-soo, menyebut situasi ini sebagai “krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan mengakui bahwa kebakaran tersebut telah mencatatkan rekor baru dalam sejarah kebakaran hutan di Korea Selatan.

Lebih dari 23.000 warga telah dievakuasi akibat kebakaran yang meluas ke berbagai wilayah, menghancurkan sejumlah situs budaya bersejarah, termasuk Kuil Gounsa yang telah berdiri selama lebih dari 1.300 tahun.

Dalam upaya pemadaman, sebuah helikopter pemadam kebakaran jatuh di pegunungan wilayah Uiseong pada Rabu siang. Pihak berwenang masih menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut.

Untuk mengendalikan kobaran api, ribuan petugas pemadam kebakaran dan sekitar 5.000 personel militer telah dikerahkan. Helikopter milik militer Amerika Serikat yang ditempatkan di Korea juga turut membantu operasi pemadaman.

Badan Pemadam Kebakaran Nasional telah meningkatkan status darurat ke level tertinggi pada Selasa lalu, menjadikannya peringatan kebakaran pertama pada tingkat ini di tahun 2025.

Kebakaran hutan jarang terjadi di Korea Selatan, dan jumlah korban jiwa akibat peristiwa semacam ini biasanya rendah. Namun, kebakaran yang saat ini melanda telah menjadi yang paling mematikan dalam sejarah negara tersebut. Hingga saat ini, sekitar 17.000 hektare hutan telah terbakar, menjadikannya kebakaran terbesar ketiga dalam sejarah Korea Selatan berdasarkan luas wilayah yang terdampak.

Kebakaran di Kota Uiseong juga menghanguskan Kuil Gounsa, yang dibangun pada tahun 618 Masehi. Selain itu, sebuah struktur arsitektur Buddha dari Dinasti Joseon (1392-1910) yang dianggap sebagai harta nasional juga ikut hancur, sebagaimana dikonfirmasi oleh otoritas kehutanan setempat.

Presiden Han menegaskan bahwa semua sumber daya dan personel telah dikerahkan untuk menangani kebakaran, meskipun upaya ini terus terhambat oleh angin kencang. “Kami sangat berharap hujan turun hari ini atau besok untuk membantu memadamkan api,” ujarnya.

Namun, menurut Administrasi Meteorologi Korea, tidak ada perkiraan hujan pada Rabu, dan hanya sedikit hujan dengan intensitas 5 hingga 10 mm yang diperkirakan turun pada Kamis.

Pemerintah berjanji akan mengevaluasi seluruh kekurangan dalam penanganan kebakaran ini setelah situasi terkendali serta memperkuat strategi pencegahan di masa depan. Han juga menekankan bahwa pemadaman kebakaran hutan memerlukan sumber daya besar dan berisiko tinggi bagi keselamatan manusia.

Korea Selatan mengalami kondisi yang lebih kering dari biasanya dengan curah hujan di bawah rata-rata. Sejak awal tahun ini, sudah terjadi 244 kebakaran hutan—2,4 kali lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pemerintah juga berjanji untuk memperketat penegakan hukum terhadap pembakaran liar, yang menjadi salah satu penyebab utama kebakaran hutan, serta menindak tegas kelalaian individu.

Kebakaran ini pertama kali muncul pada Jumat lalu di Kabupaten Sancheong, sebelum menyebar ke kota-kota tetangga seperti Uiseong, Andong, Cheongsong, Yeongyang, dan Yeongdeok.

Sumber: BBC

Rekomendasi untuk Anda