Korban Gempa Dahsyat Myanmar Capai 1.000 Orang, Evakuasi Terkendala Situasi Konflik
Myanmar, ZONAWARTA.COM – Myanmar kembali dilanda bencana besar setelah gempa berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang wilayah dekat Mandalay pada Jumat siang. Hingga Sabtu, jumlah korban tewas melonjak hingga 1.002 orang, dengan lebih dari 2.376 lainnya mengalami luka-luka, sementara 30 orang masih dinyatakan hilang. Pemerintah militer Myanmar memperkirakan angka ini masih akan bertambah seiring berjalannya proses pencarian korban di reruntuhan.
Gempa kuat ini menyebabkan banyak bangunan runtuh, jalanan retak, jembatan ambruk, dan bahkan merusak sebuah bendungan. Situasi semakin diperumit oleh konflik berkepanjangan yang melanda Myanmar, membuat upaya penyelamatan dan distribusi bantuan menjadi lebih sulit dan berbahaya.
Tak hanya Myanmar, getaran gempa juga dirasakan di Thailand, termasuk di ibu kota Bangkok yang dihuni sekitar 17 juta penduduk. Beberapa bangunan tinggi bergoyang, menyebabkan kepanikan di berbagai wilayah. Salah satu dampak paling parah terjadi di lokasi konstruksi gedung bertingkat 33 lantai yang dibangun oleh perusahaan China untuk pemerintah Thailand. Bangunan itu ambruk dalam hitungan detik, menimbulkan kepulan debu tebal dan menewaskan sedikitnya enam orang, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.
Di tengah pencarian yang semakin putus asa, keluarga para korban terus menunggu kabar dengan harapan yang semakin menipis. “Saya masih berdoa mereka selamat, tetapi ketika melihat puing-puing ini, di mana mereka? Apakah mereka masih hidup?” ujar Naruemol Thonglek, seorang wanita berusia 45 tahun yang kehilangan pasangan dan lima temannya dalam insiden tersebut.
Pemerintah Myanmar mengimbau masyarakat untuk menyumbangkan darah, mengingat banyaknya korban yang membutuhkan transfusi. Di sisi lain, Myanmar juga membuka diri untuk menerima bantuan asing. Tim penyelamat dari berbagai negara mulai berdatangan, termasuk dari China, Rusia, India, dan Malaysia, yang membawa tenaga medis, alat pendeteksi gempa, serta bantuan logistik. PBB juga telah mengalokasikan dana darurat sebesar $5 juta untuk memulai operasi kemanusiaan di wilayah terdampak.
Meskipun bantuan mulai mengalir, kondisi di lapangan tetap sulit, dengan akses terbatas dan infrastruktur yang rusak berat. Para penyintas dan tim penyelamat kini berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang mungkin masih bertahan di bawah reruntuhan.
Sumber: The Associated Press